Jalan Tol Jagorawi adalah jalan tol pertama di Indonesia yang mulai dibangun pada tahun 1973, menghubungkan Jakarta - Bogor - Ciawi. Jalan ini dibangun dengan biaya 350 juta perkilometer pada kurs waktu itu. Jalan tol sepanjang lebih kurang 60 km ini diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 9 Maret 1978. Saat diresmikan jalan tol tersebut baru ruas Jakarta - Citeureup dengan karyawan 200 orang. Jalan tol Jagorawi merupakan jalan tol pertama yang didanai APBN dari pinjaman luar negeri, kemudian pengelolaannya diberikan kepada PT. Jasa Marga sebagai modal awal perusahaan tersebut dan merupakan penyertaan pemerintah.
Jalan tol Jagorawi dikelola oleh PT. Jasa Marga Indonesia. Jagorawi sendiri merupakan singkatan kata dari (Ja)karta - Bo(gor) - Ci(awi).
Sejarah
Tahun 1973, Pemerintah mulai membangun jalan bebas hambatan pertama yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor. Ketika masih dalam tahap pembangunan, jalan tol Jagorawi ini belum berstatus sebagai jalan tol.. Ketika jalan tersebut selesai dibangun, tahun 1978, Pemerintah memikirkan agar biaya pengoperasian dan pemeliharaan ruas jalan tersebut dapat dilakukan mandiri tanpa membebani anggaran Pemerintah. Untuk itu Menteri Pekerjaan Umum ketika itu, Ir. Sutami mengusulkan kepada Presiden agar ruas jalan Jakarta - Bogor tersebut di jadikan jalan tol.
Maka, dua minggu minggu sebelum jalan tol Jagorawi diresmikan penggunaannya, persisnya pada 25 Februari 1978, terbit PP No. 4 tahun 1978 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk pendirian Persero yang mengurusi dan mengelola infrastruktur jalan raya. Dari situlah kemudian lahir badan usaha persero PT Jasa Marga (Persero) pada 1 Maret 1978, satu minggu sebelum jalan tol Jagorawi diresmikan.
Rabu, 15 September 2010
Jalan Tol Pertama di Indonesia: Jalan Tol Jagorawi
Diposting oleh Unknown di 08.24 0 komentar
Selasa, 14 September 2010
Sejarah dan Proses Pembuatan Kiswah (Kain Penutup Ka'bah)
Pada ka'bah kita sering melihat adanya Kiswah (kain/selimut hitam penutup ka’bah). Tujuan dari pemasangan kain itu adalah untuk melindungi dinding ka’bah dari kotoran, debu, serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu kiswah juga berfungsi sebagai hiasan ka’bah.
Menurut sejarah, Kabah sudah diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS. Namun tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah terbuat dari kain tenun.
Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail as diikuti oleh para penerusnya. Pada masa Qusay ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Kabah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.
Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafa al-Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas.
Sementara itu, pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman.
Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan pada masa Khalifah Mamun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Pada era keemasan Islam , tanggung jawab pembuatan maupun pengadaan kiswah selalu dipikul oleh setiap khalifah yang sedang berkuasa di Hijaz, Arab Saudi pada setiap masanya. Meskipun kiswah selalu menjadi tanggung jawab para khalifah, beberapa raja di luar tanah Hijaz pernah menghadiahkan kiswah kepada pemerintah Hijaz.
Dulu, kiswah yang terbuat dari sutera hitam pernah didatangkan dari Mesir yang biayanya diambil dari kas Kerajaan Mesir. Tradisi pengiriman kiswah dari Mesir ini dimulai pada zaman Sultan Sulaiman yang memerintah mesir pada sekitar tahun 950-an H sampai masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya sekitar akhir tahun 1920-an.
Ka'bah tanpa kiswah
Setiap tahun, kiswah-kiswah indah yang dibuat di Mesir itu diantar ke Makkah melewati jalan darat menggunakan tandu indah yang disebut mahmal. Kiswah beserta hadiah-hadiah lain di dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dikepalai oleh seorang amirul hajj.
Amirul hajj itu ditunjuk secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Mesir. Dari Mesir, setelah upacara serah terima, mahmal yang dikawal tentara Mesir berangkat ke terusan Suez dengan kapal khusus hingga ke pelabuhan Jeddah. Setibanya di Hijaz, mahmal tersebut diarak dengan upacara sangat meriah menuju ke Mekkah.
Pengiriman kiswah dari Mesir pernah terlambat hingga awal bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi beberapa waktu setelah meletusnya Perang Dunia I. Keterlambatan pengiriman kiswah terjadi akibat suasana yang tidak aman dan kondusif akibat Perang Dunia I.
Melihat situasi yang kurang baik pada saat itu, Raja Ibnu Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) mengambil keputusan untuk segera membuat kiswah sendiri mengingat pada tanggal 10 Dzulhijjah, kiswah lama harus diganti dengan kiswah yang baru. Usaha tersebut berhasil dengan pendirian perusahaan tenun yang terdapat di Kampung Jiyad, Mekkah.
Setelah Perang Dunia I berakhir, Raja Farouq I dari Mesir kembali mengirimkan kiswah ke tanah Hijaz. Namun melihat berbagai kondisi pada saat itu, pemerintah Kerajaan Arab Saudi dibawah Raja Abdul Aziz Bin Saud memutuskan untuk membuat pabrik kiswah sendiri pada 1931 di Makkah. Hingga akhirnya kiswah dibuat di Arab Saudi hingga saat ini.
Kain kiswah memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Pintalan-pintalan benang berwarna emas maupun perak bersatu padu merangkai goresan kalam Ilahi. kiswah menjadi sangat berharga, bukan hanya karena firman-firman Allah SWT yang suci yang dipintal pada kiswah, tetapi juga karena keindahan dan eksotisme pintalan benang berwarna emas dan perak pada permukaannya.
Perpaduan warna emas dan perak pada kaligrafi yang menghiasi kiswah tersebut memiliki nilai seni yang luar biasa. Sebab pembuatannya membutuhkan skill dan bakat yang luar biasa karena tidak semua orang mampu membuat seni seindah itu. Kiswah merupakan simbol kekuatan, kesederhanaan, juga keagungan.
Proses Pembuatan Kiswah
Kiswah pertama kali dibuat dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin Ad dengan bahan baku kulit unta. Namun dalam perkembangannya, kiswah dibuat dari kain sutera. Untuk membuat sebuah kiswah memerlukan 670 kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain. Masing-masing potongan tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm.
Ukuran itu sudah disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Kabah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 kg emas dan beberapa puluh kg perak.
Sejak 1931, kiswah untuk menutupi Kabah diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah, Arab Saudi. Dalam pabrik tersebut, pembuatan kiswah dilakukan secara modern dengan menggunakan mesin tenun modern. Di pabrik kiswah yang areanya seluas 10 hektare itu dipekerjakan sekitar 240 perajin kiswah.
Dalam pabrik tersebut, kiswah dibuat secara massal. Di sanalah semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah . Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.
Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari.
Karena menggunakan bahan baku dari benda-benda yang sangat berharga seperti sutera, emas, maupun perak, harga kiswah ini menjadi sangat mahal sekitar Rp 50 miliar.
Sehingga setiap tahun Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi harus menyediakan dana sekitar Rp 50 miliar untuk pembuatan kiswah. Menurut sejarah, tradisi penggantian kiswah yang dilakukan setiap tahunnya sudah ada sejak masa Khalifah Al-Mahdi yang merupakan penguasa Dinasti Abbasiyah ke-IV.
Tradisi tersebut bermula ketika, Khalifah al-Mahdi naik haji kemudian penjaga Kabah melapor kepadanya tentang kiswah yang pada saat itu sudah mulai rapuh dan dikhawatirkan akan jatuh. Mendengar laporan yang memprihatinkan itu, Al-Mahdi memerintahkan agar setiap tahun kiswah diganti.
Sejak saat itu, kiswah untuk Ka’bah selalu diganti setiap tahun pada musim haji dan menjadi sebuah tradisi yang harus selalu dijalankan. Dengan demikian tidak ada lagi kiswah yang kondisinya memprihatinkan.
Pasalnya, setiap kiswah hanya memiliki masa pakai Ka’bah selama satu tahun. Bahkan, kiswah bekas dipakai Ka’bah ada yang dipotong-potong kemudian potongan tersebut dijual sebagai penghias rumah maupun kantor.
sumber http://www.apakabardunia.com/post/tahukah-kamu/sejarah-dan-proses-pembuatan-kiswah-kain-penutup-kabah
Diposting oleh Unknown di 14.14 0 komentar
Sejarah Indonesia di Mata Dunia, Asal Usul Nama Indonesia

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata.. Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). \
Awalnya Nusantara
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India".
Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).
Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.
Awal Mula Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:
"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880.
Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).
sumber :http://infotemplatez.blogspot.com/2010/09/sejarah-indonesia-di-mata-dunia.htm
Diposting oleh Unknown di 14.04 0 komentar
Sabtu, 14 Agustus 2010
Gubernur Jendral Hindia Belanda
wajah para gubernur jenderal yang pernah berkuasa selama tiga abad lebih selama periode VOC, Masa Kekuasaan Perancis dan Inggris, serta Periode Pemerintah Hindia Belanda, datanglah ke Museum Sejarah (Fatahillah) Jakarta di kawasan Kota Tua Jakarta Kota.
Mulai 30 Oktober hingga 31 Nopember 2007, foto-foto mereka dipamerkan di museum ini dengan judul " Koleksi Lukisan Gubernur Jenderal dan Tokoh VOC di Batavia".
Ada 60-an foto digital gubernur jenderal yang semuanya merupakan koleksi Museum Sejarah Jakarta.
Nama jabatan Gubernur-Jendral atau dalam bahasa Belanda "Gouverneur-Generaal" adalah jabatan penguasa tertinggi Hindia-Belanda. Konon jabatan ini baru diadakan pada tahun 1691.
Sebelumnya gelar jabatan ini lain. Penguasa Hindia-Belanda sebelumnya berarti hanya duta VOC saja di Jakarta dan kemudian Batavia.
Setelah bangkrutnya VOC pada tahun 1799, aset-aset VOC di Hindia-Belanda diserahkan kepada pemerintahan Belanda, sehingga mulai saat itu seorang Gubernur-Jendral benar-benar menjadi wakil daripada pemerintahan Belanda.
Jabatan Gubernur-Jendral hanya ada di jajahan Belanda di Hindia-Belanda. Di Suriname, jajahan Belanda yang lain, gelar ini hanya Gubernur saja.
Gubernur-Jendral Belanda yang terakhir adalah Jhr A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Ia ditangkap oleh pasukan Jepang pada tahun 1942. Setelah dia masih ada satu pejabat Belanda lagi yang memakai gelar Gubernur-Jendral yaitu H.J. van Mook. Tetapi apakah ia juga seorang Gubernur-Jendral secara legal diragukan.
Dalam panduan pameran disebutkan, masa jabatan gubernur jenderal Hindia Belanda rata-rata empat tahun. Gubernur Joan Maetsuyker adalah gubernur jenderal yang menjabat paling lama, sampai 25 tahun (1653-1679), sementara yang paling singkat adalah Gubernur Jenderal Jan Willem Jansens yang hanya berkuasa tujuh bulan, antara 20 Februari 1811 dan 18 September 1811, karena harus menyerahkan jabatannya kepada Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles dari Inggris.
Ternyata, satu-dua gubernur jenderal ternyata lahir dan besar di Indonesia, seperti Gubernur Jenderal Carel Herman Aart van der Wijk (1893-1899) yang kelahiran Ambon, 29 Maret 1840.
sumber
Diposting oleh Unknown di 11.22 0 komentar
Rabu, 28 Juli 2010
Sejarah Nazi di Indonesia

Perang Dunia II Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.
Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan "kawan sejawatnya", Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.
Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.
Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.
Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.
Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.
Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.
berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.
Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.
Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana.
Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.
Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.
Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.
Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka "dijaga" oleh orang Jerman. "Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata,orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan.Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu," kata Zahorka.
Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.
Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.
Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api.



Diposting oleh Unknown di 13.48 0 komentar
Selasa, 08 Juni 2010
Analisa Keaslian Video Mirip Luna Maya dan Ariel | KURSIKU
Diposting oleh Unknown di 06.41 0 komentar
Kamis, 04 Februari 2010
Profil Fadel Muhammad

Dr. Ir. H. Fadel Muhammad lahir di Ternate pada 20 Mei 1952. Sejak 10 Desember 2001, ia terpilih sebagai Gubernur Provinsi Gorontalo.
Melalui Pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia terpilih kembali sebagai Gubernur Gorontalo dengan memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan nilai tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis, sehingga dibukukan dalam Rekor MURI sebagai “Rekor Pemilihan Suara Tertinggi di Indonesia untuk Pemilihan Gubernur”.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 73/P/2006 yang berlaku mulai 28 Desember 2006, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia mensahkannya menjadi Gubernur Gorontalo untuk masa kerja 2006-2011.
Pada 17 Januari 2007, atau sehari setelah pencanangan “Gerakan Peningkatan Produksi Padi Nasional 2 Juta Ton”, Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma’ruf melantiknya sebagai Gubernur Gorontalo bersama Wakil Gubernur Gorontalo Ir. Hi Gusnar Ismail MM untuk periode kedua. Proses pelantikan dilaksanakan di Gedung DPRD, Botu (Gorontalo) dan disiarkan secara nasional melalui siaran TVRI.
Bersama Wakil Gubernur Ir. Hi Gusnar Ismail MM, ia sukses memimpin Gorontalo sejak 2001-2006.
Kini menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II sejak 21 Oktober 2009.
Fadel sebelumnya adalah seorang pengusaha dan politikus Indonesia. Ia juga Ketua DPD I Golkar di Gorontalo. Setelah bercerai dengan istri pertamanya, ia menikah dengan Hasanah binti Thahir Shahab.
Fadel meraih gelar Insinyur dari Jurusan Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1978. Saat sedang menempuh pendidikan di ITB, ia pernah mendapatkan tawaran beasiswa untuk belajar di Institut Teknologi California, namun tawaran tersebut ditolaknya. Ia pernah bergabung dengan Menwa ITB.
Ia adalah salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan mantan pemimpin Grup Bukaka yang juga didirikannya. Selain itu, ia pernah menjadi salah seorang pemegang saham Bank Intan yang kemudian dilikuidasi. Saat ini Fadel juga adalah Ketua Umum Pengurus Dewan Jagung Nasional.
Daftar Riwayat Hidup
Nama: Fadel Muhammad
Tempat, tanggal lahir: Ternate, 20 Mei 1952
Website:
· fadelmuhammad.org
· www.facebook.com/pages/fadel-muhammad/47904286195
Pendidikan:
* Fakultas Teknik Industri, Departemen Teknik Fisika ITB, (1978).
* Doktor Ilmu Administrasi Negara (predikat Cum Laude), Universitas Gadjah Mada (2007).
* Kursus-kursus Manajemen dan Leadership baik di dalam maupun di luar negeri.
Pengalaman kerja/usaha:
Dunia Usaha:
President dan Chairman dari beberapa perusahaan lokal dan joint ventures dengan perusahaan international sejak tahun 1985.
Profesi:
Anggota Dewan Pertimbangan KADIN INDONESIA sejak 2003.
Berlanjut hal.6……….
Pendidikan:
* Dosen untuk mata kuliah Seminar Kewirausahaan di FE Univesitas Trisakti Jakarta (1998 – 2000).
* Mengajar pada program Doktor di Universitas Negeri Makasar untuk mata kuliah Manajemen Adminitrasi Publik dan Birokrasi (2007 – 2008).
* Memberikan ceramah/kuliah umum pada berbagai Program Pasca Sarjana di sejumlah universitas untuk topik Kewirausahaan dan New Public Management.
Pemerintahan:
* Gubernur Provinsi Gorontalo (periode 2001 – 2011).
* Wakil Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (periode 2003 – 2007).
* Ketua Dewan Jagung Indonesia (periode 2004 - ).
* Menteri Kelautan dan Perikanan (periode 2009 - sekarang).
Legislatif:
* Anggota MPR-RI sejak 1992-2004.
Politik:
* Pengurus Inti DPP Partai Golkar sejak 1989 – 2004.
* Ketua DPD Partai Golkar periode 2005 – 2010.
Atas sumbangsih yang beliau dedikasikan kepada masyarakat–baik nasional maupun internasional–sejumlah penghargaan telah dianugerahkan kepada beliau antar lain:
* UPAKARTI oleh Presiden RI (1989), atas jasa dalam membina industri kecil dalam bidang permesinan.
* SATYALANCANA PEMBANGUNAN oleh Presiden RI (1990), atas jasa-jasa yang besar dalam bidang pembangunan.
* MEDALI KARYA TEKNIK UNGGUL oleh Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) (1990), atas jasa dalam pengembangan teknologi di Indonesia.
* LEE KUAN YEW FELLOWSHIP AWARD oleh Pemerintah Singapura (1994) atas jasa di bidang kerjasama dalam meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara.
Selama menjabat sebagai Gubernur Gorontalo periode 2001-2007, ada 34 penghargaan yang diperoleh, diantaranya :
* PENGHARGAAN KETAHANAN PANGAN TINGKAT NASIONAL Tahun 2004-2006 (Piala Abadi).
* PIAGAM PENGHARGAAN “CITRA PELOPOR INOVASI PELAYANAN PRIMA” atas keberhasilannya sebagai Pelopor Invoasi Pelayanan Prima dalam rangka Kepemerintahan Yang Baik, oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, pada 22 Desember, 2006 dihadapan Presiden RI di Istana Negara, Jakarta.
* PENGHARGAAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI atas Pencapaian Menuju Tertib Administrasi Keuangan pada tahun 2005, oleh Ketua BPK RI dihadapan Presiden RI pada 9 Januari, 2007 di Jakarta.
* SATYALANCANA PEMBANGUNAN dari Presiden RI Pada 7 Juli, 2007, di Banyuasin, Palembang.
* SATYALANCANA PEMBANGUNAN dari Presiden RI pada 17 Agustus, 2007 di Kantor Menteri Dalam Negeri Jakarta.
* PENGHARGAAN PRAKARSA PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA Tahun 2007 atas prakarsa pemerintah dan seluruh masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Piagam Pembangunan Manusia Indonesia yang dideklarasikan tahun 2006 oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI pada 17 Desember, 2007 di Jakarta.
* RTTI (REGIONAL TRADE TOURISM INVESTMENT) AWARD dari Dewan Perwakilan Daerah RI atas prestasi mengembangkan iklim investasi yang bersahabat dengan dunia usaha dan masyarakat pariwisata pada 26 Mei 2008 di Jakarta. (cs)
sumber : TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Back to : chulay212
Diposting oleh Unknown di 14.00 0 komentar
Senin, 20 April 2009
BIOGRAFI CHULAY_212

Chulay_212 dilahirkan dengan nama "Raden Tjutjuk soepari Moentarso Adi" pada Minggu Wage 05 Juli 1970 di sebuah Rumah Sakit Angkatan Darat di Purworejo (Kutoarjo) Jawa Tengah, anak terakhir dari sembilan bersaudara (tujuh yang masih hidup) karena kakak pertamanya meninggal di usia masih belia karena kekejaman agresi militer Belanda di Yogyakarta dan kakak yang kedelapan juga meninggal di waktu kecil karena sakit di daerah majalengka Jawa Barat.
Ayahnya bernama Raden Soeroso Martodidjojo berasal dari Jawa Tengah., seorang Veteran Angkatan Perang yang terakhir bertugas tahun 1966 di Kodam Siliwangi Jawa Barat Ibunya bernama Soekasih berasal dari Aceh yang juga seorang sukarelawan Palang Merah di jaman Perang Kemerdekaan.
Ketika kecil Chulay_212 bersama ibunya tinggal berpindah – pindah tempat karena keadaan ekonomi pensiunan seorang janda dengan tujuh anaknya amat sangat memprihatinkan kala itu sejak ayahnya meninggal dunia tahun 1972.
Dua Kakak chulay_212 (pertama & kedua) tinggal di Jakarta bersama Adik Ayahnya (H.Martono) yang bertugas di Kodam Jayakarta,Dua Kakanya yang lain(kelima & keenam) tinggal di Semarang Bersama kakak Ayahnya (Dr.Arie) yang kala itu bertugas di Kodam Diponegoro. Dan dua kakak chulay_212 (ke tiga dan keempat) telah berumah tangga dan mengikuti suami di Yogyakarta.
Bersama Ibundanya Chulay_212 kemudian memutuskan Hijrah ke Jakarta.
Pada usia 08 tahun Chulay_212 masuk sekolah dasar, di SD Inpres (Tegal Parang 01) warung buncit IV jakarta selatan kemudian pindah ke SD di kalibata dan kembali lagi ke SD Tegal Parang 04 di warung buncit IV. Chulay_212 bersama Ibunda dan dua saudaranya tinggal di sebuah kontrakan di daerah mampang prapatan jakarta selatan, jarak yang begitu jauh antara tempat tinggal dan sekolah tak menghambat chulay_212 untuk menuntut ilmu walau dengan berjalan kaki.
Tahun 1981 Chulay_212 harus berpindah sekolah kembali untuk mengikuti sang kakak yang tinggal di perbatasan anatara DKI Jakarta dan Jawa barat yaitu Perumnas Depok tepatnya di Jl.Rokan II No.153 Depok Timur .
Dua tahun Chulay_212 mengenyam pendidikan di SDN Mekar Jaya XV Depok dalam kesehariannya chulay_212 mulai mencari nafkah sendiri untuk sekedar mencari uang jajan dengan berjualan es mambo, Petasan dan Koran.
Tahun 1984 Chulay_212 berhasil lulus dan melanjutkan sekolah di SMPN 103 Cijantung berlokasi di Komplek Kopashanda (Kopassus) jakarta timur, Cuma bertahan satu semester (enam bulan) di SMPN 103 hingga akhirnya Chulay_212 juga harus berpindah sekolah lagi di SMPN 206 Jl.Meruya Udik (Selatan) jakarta barat karena mengikuti kakak yang tinggal di Joglo jakarta barat.
Chulay_212 kecil terkenal akan anak yang sangat pendiam dan pemalu dalam pergaulan baik di rumah maupun di sekolah, ”pernah suatu ketika chulay_212 ujian sekolah dan diharuskan duduk satu meja dengan anak perempuan, karena malunya chulay_212 sampai menangis dan tidak mau duduk berbarengan, hingga sang guru mengalah dan memindahkan chulay_212 dengan anak laki laki.”
Hingga usia 14 tahun chulay_212 berubah 180 derajat dari yang dulunya pemalu dan pendiam kini menjadi anak yang periang dan sangat mudah bergaul dengan siapapun termasuk guru-gurunya. Pada masa itu chulay_212 mengikuti kelompok Gank GRS yang kala itu sangat disegani di daerah joglo dan sekitarnya, chulay_212 dikenal dengan nama ”Steve” anak pendatang yang berhasil diterima dengan baik oleh anak-anak asli betawi kala itu,
Oktober 1986 chulay_212 mulai sedikit mengenal cinta dengan seorang gadis bernama Dian Anggraeni yang kala itu bersekolah di SMPN 142 joglo dan tinggal di Komplek DKI joglo. Satu tahun lebih chulay_212 menjalin cinta walaupun sama-sama malu bila bertemu dan kangen bila tak berjumpa,mungkin karena usia yang masih dini dan masih kekanak kanakan hingga berpegangan tanganpun malu.Sayang jalinan cinta pertama chulay_212 harus pupus di tengah jalan.
05 Juni 1987 chulay_212-Dian Anggraeni harus mengakhiri kisah cintanya.kemudian tertarik dengan gadis manis yang mempesona bernama Monitasari, gadis melankolis keturunan Pakistan yang juga tinggal didekat rumah.
12 Juni 1987 kembali chulay_212 mengukir jalinan kasih dengan gadis dari SMPN 11 jakarta bernama Ratih Purwita Sari (Wiwit) yang masih tetangga dekat dengan Dian. Cuma bertahan 2 bulan Chulay-Wiwit menjalin hubungan kasih hingga kembali kandas di tengah jalan, tepatnya tanggal 10 Agustus 1987 dengan alasan jarak yang memisahkan karena chulay_212 kembali harus tinggal di Depok untuk melanjutkan Sekolah ke jenjang tingkat atas SMA Budi Bhakti Depok. Disini chulay_212 mulai aktif dalam berorganisai diantaranya : Kepramukaan, Karang Taruna, FKPPI, AMS (Angkatan Muda Siliwangi) dan lainnya.
07 Juli 1988 chulay_212 untuk pertama kalinya mengikuti petualangan mendaki Gunung Pangrango di Cimacan-Cibodas jawa barat bersama teman lingkungan rumahnya disusul ke gunung Gede, Salak, Papandayan, Merapi, Slamet, lawu dan beberapa gunung di sekitar pulau jawa.
5 Juni 1990 chulay_212 lulus dari SMA dan kembali tinggal di Joglo jakarta barat, dan kembali menggeluti organisasi kepramukaan,
15-22 Juni 1991 Chulay_212 ikut andil dalam Jambore Nasional di Cibubur sebagi panitia di Sanggar Saka Kencana. Di acara itu juga chulay_212 kembali menjalin kasih dengan gadis dari Cipulir Kebayoran lama bernama Yuyun Kurniawati. Gadis yang telah mengubah kepribadian chulay_212 dari yang kekanak kanakan menjadi pria yang sedikit dewasa dalam pemikirannya. Dan selesai Jamnas kembali chulay_212 harus tinggal di Depok.
3-12 Juli 1992 acara Raimuna Nasional kembali digelar kali ini chulay_212 dipercayakan menjadi panitia di Sangga IPTW. Diwaktu acara itu chulay_212 harus kembali mengakhiri kisah cintanya dengan yuyun, selang berapa lama chulay mulai tertarik dengan gadis bernama Darmawati dari Meruya, Suryani dari Depok timur, Nurhayati dari Bandung, Kurnia Hibaria dari Depok Tengah, Catur Suprihatin dari Cibubur yang kesemuanya telah mengisi hari-harinya sayang semuanya harus kandas ditengah jalan karena waktu itu chulay_212 belum mempunyai pekerjaan tetap di jakarta.
Tahun 1992 Ibunda tercinta Wafat di bandung dan dikebumikan di Depok, sejak itu sampai tahun 1997 chulay_212 hidup dengan berpindah pindah tempat untuk mengikuti sang kakak diantaranya pernah tinggal di asrama Brimob Pulo gadung, Bekasi, Bandung, Yogya, Sragen bahkan untuk mengisi petualangannya chulay_212 sampai ke Ngawi (Jatim), Sanur(Bali), Lampung, Martapura (Kalsel), Muara Teweh (Kalteng).
Hingga 2 Mei 1997 chulay_212 menginjakan kakinya di bumi Cilacap Jawa tengah untuk memulai pekerjaan baru di Pelabuhan Perikanan Cilacap sebagai tenaga honorer. Chualy_212 tinggal di rumah Dinas mengikuti kakak sepupunya.
20 Agustus 1997 petualangan cinta chulay_212 diakhiri dengan hadirnya gadis bernama Wahyuningsih (Nunik) asal cilacap yang disunting pada April 1998 dan kini telah dikaruniai dua anak yang tinggal di rumah dinas PPSC hingga sekarang (2009).
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 20.47 0 komentar
Minggu, 19 April 2009
PROFIL PPS CILACAP




SEJARAH
Gagasan pembangunan pelabuhan perikanan di daerah cilacap diawali dengan mengembangkan PPI sentolo kawat sebagai salah satu pusat kegiatan usaha penangkapan ikan di daerah Cilacap, tetapi gagasan ini tidak sejalan dengan kepentingan Pertamina karena keberadaan kapal-kapal perikanan di PPI sentolo kawat dianggap mengganggu dan membahayakan aktifitas kapal tanker Pertamina yang akan keluar masuk pelabuhan. Akhirnya dengan kesepakatan lintas sektoral dari 11 departemen terkait yang diketuai oleh Deputy V Bappenas diputuskan untuk memindahkan aktifitas kapal-kapal nelayan dari PPI sentolo kawat dengan membangun pelabuhan perikanan di Teluk Penyu dengan sumber pembiayaannya di bebankan kepada pihak pertamina.
Pembangunan PPSC tahap I dimulai pada tahun 1990 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden RI pada tahun 1996 dengan status kelembagaan pelabuhan perikanan type B atau Nusantara. Namun dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 4 april 2001 statusnya di tingkatkan menjadi pelabuhan perikanan type A atau Samudera.
Letak geografis PPSC pada posisi 109°01’ 18,4” BT dan 107°43’ 31,2” LS di pantai selatan Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia yang dikenal memiliki potensi sumber daya ikan terutama Tuna dan Cakalang yang cukup melimpah, merupakan tempat yang sangat ideal untuk dijadikan pelabuhan pangkalan bagi kapal-kapal perikanan khususnya long line dan gill net yang beroperasi di Samudra Hindia.
Pembangunan PPSC tahap pertama dirancang untuk mampu mengakomodir kegiatan kapal perikanan dalam perkembangannya s/d tahun 2000 sudah dilengkapi dengan fasilitas antara lain terdiri dari fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Fasilitas pokok antara lain terdiri dari bangunan pemecah gelombang, break water, dermaga, kolam dan alur pelayaran, jalan , drainase, jembatan dan lahan. Agar fasilitas-fasilitas pokok tersebut dapat dioperasionalkan maka PPSC juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas fungsional seperti ; TPI, pasar ikan, lampu suar, instalasi air bersih, pabrik es, jaringan listrik, instalasi penyaluran BBM, dock dan bengkel, kantor., alat angkut dll. Adapun fasilitas penunjang sebagai pelengkap dari fasilitas pokok dan fasilitas fungsional yang dimiliki antara lain : Balai Pertemuan Nelayan, mess operator, pos jaga, pos terpadu, tempat peribadatan, MCK, Kios Iptek, kantor pengawas perikanan dll.
Berbagai fasilitas yang telah dimiliki PPSC baik yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta, dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pusat pelayanan masyarakat dan kegiatan ekonomi berbasis perikanan tangkap, PPSC mampu memberikan berbagai pelayanan kepada stake holder antara lain pelayanan tambat labuh kapal-kapal perikanan, pelayanan air bersih, pelayanan BBM, pelayanan es, BAP, bongkar muat ikan, pelelangan ikan, perbaikan kapal, kavling industri, pas masuk, kesyahbandaran, perizinan kapal, pegadaian, perbankan dll.
KERAGAAN OPERASIONAL
Sebagai pusat pelayanan ekonomi, PPSC telah berhasil memfasilitasi dan mendorong tumbuhnya industri baik dalam bentuk perusahaan, KUD, UBPT maupun usaha perorangan sejumlah investor yang telah menanamkan modalnya dikawasan PPSC, baik industri perikanan maupn pengusaha kecil. Adapun kegiatan dari masing-masing investor antara lain : pengolahan udang, pengolahan ikan, pengeringan ubur-ubur, pemindangan, pengasinan, penyaluran bahan alat perikanan, perbaikan kapal, perbengkelan dan berbagai kegiatan lainnya.
PPSC selaku fasilitator sekaligus sebagai pengatur pelayanan khususnya bidang perikanan tangkap dipelabuhan seperti pelayanan tambat labuh, bongkar muat kapal, pelelangan, pelayanan pra produksi dan pasca produksi, selalu berusaha memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan murah dalam bentuk pelayanan prima.
Pelayanan tambat labuh diberikan kepada semua kapal yang akan memasuki pelabuhan. Kapal-kapal yang akan masuk terlebih dahulu melaporkan kedatangannya kepada petugas Syahbandar Perikanan di pos pelayanan kapalterpadusekaligus keperluannya selama berada dalam pelabuhan dengan menyerahkan dokumen yang diperlukan seperti : pas kapal, SPI dan lain-lain. Petugas Syahbandar kemudian mengarahkan kapal ke dermaga tambat sesuai dengan keperluannya. Kapal yang akan membongkar ikan diarahkan ke dermaga bongkar di depan TPI dan kapal yang akan mengisi bahan perbekalan diarahkan ke dermaga muat. Sedangkan kapal yang akan melakukan perbaikan atau istirahat di arahkan ke dermaga istirahat. Pemilik atau ABK yang kapalnya telah menyelesaikan seluruh keperluan di pelabuhan dan akan kembali melaut kemudian melapor kepada petugas Syahbandar di pos pelayanan kapal terpadu untuk selanjutnya di terbitkan SIB. SIB akan diberikan kepada kapal perikanan yang memenuhi syarat baik administrasi maupun teknis dan telah melunasi semua kewajibannya selama berada di Pelabuhan . Jumlah frekuensi kujungan kapal di PPSC untuk periode tahun 2007 sebanyak 79.517 kali meningkat 14,58 % dibanding periode yang sama tahun 2006. Peningkatan yang signifikan ini karena adanya jaminan keamanan pelayaran bagi kapal-kapal yang akan keluar masuk pelabuhan, dengan telah selesainya pembangunan perpanjangan break water sepanjang 756,57 m sebelah utara dan 370,64 m sebelah selatan yang dibangun secara bertahap sejak tahun. 2003 s/d tahun 2007. Break water yang dibangun dengan dana sebesar Rp.62.816.081.580,50 disamping dapat memperkecil ketinggian gelombang dari 1,5 m menjadi + 0,4 m juga dapat menghambat masuknya sedimentasi dari arah laut sehingga tingkat kedalaman alur masuk pelabuhan dapat dipertahankan pada kedalaman 3 s/d 4 m pada saat air surut terendah. Untuk mengantisipasi perkembangan frekuensi kunjungan kapal baik terutama kapal berukuran > 100 gross tonage maka pada tahun 2008 telah dilaksanakan pembangunan dermaga sepanjang 85 m di kolam baru dan pengerukan kolam pelabuhan sebesar 53.177 m³.
Pemilik kapal atau ABK yang akan membongkar ikan terlebih dahulu melaporkan kepada petugas TPI dan enumerator tentang volume dan jenis ikan yang akan di bongkar untuk selanjutnya mendapat no urut bongkar.Pembongkaran ikan dari atas kapal dimonitor oleh petugas TPI dan enumerator, selanjutnya ikan yang akan dibongkardari kapal dibawa ke TPI untuk ditimbang dan dilelang.
Petugas TPI dan enumerator mencatat volume jenis ikan dan harga ikan dari setiap kapal yang bongkardan lelang.Volume ikan yang di daratkan pada periode tahun 2007 sebesar 5.880,46 ton, terjadi penurunan 9,18 % dibanding periode yang sama tahun 2006. Ikan yang di daratkan di PPSC di dominasi oleh jenis Tuna, Cakalang, Marlin dan Udang. Kualitas ikan yang di daratkan terutama Cakalang yang merupakan ikan dominan masih di bawah tingkat mutu yang di persyaratkan dengan kandungan histamin yang cukup tinggi akibat penanganan yang kurang baik diatas kapal. Untuk mengatasi penurunan mutu selama di pelabuhan, pada tahun 2007 PPSC telah membangun selasar di dermaga bongkar untuk melindungi ikan dari sengatan sinar matahari dan pemasangan lantai keramik di TPI agar lebih higienis.
Kapal yang telah membongkar ikan hasil tangkapan dan akan kembali melaut selanjutnya ditambat ke dermaga muat untuk mengisi perbekalan, sedangkan kapal yang akan istirahat untuk menunggu musim atau diadakan perawatan body kapal ditambat ke dermaga istirahat dan dock.
Pelayanan es baik untuk keperluan kapal maupun untuk kebutuhan di TPI dan tempat pengolahan di suplai dari luar pelabuhan oleh tiga perusahaan swasta dengan harga Rp.9000/balok.
Adapun kapasitas terpasang dari tiga perusahaan penyalur es ke PPSC mencapai ±51,38 ton /hari. Volume penyaluran es sebesar 1875 ton selama periode tahun 2007, dimana penyaluran tersebut masih jauh di bawah kapasitas terpasang maupun kebutuhan es yang ideal dibanding dengan volume ikan yang di daratkan. Namun demikian dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006 terjadi peningkatan 152,55 %. Pihak PPSC dan instansi terkait lainnya dalam hal ini dinas kelautan dan perikanan kabupaten cilacap terus memberikan penyuluhan kepada nelayan dan bakul ikan untuk mengunakan es dengan perbandingan yang ideal dengan volume ikan yang ditangani untuk menekan penurunan mutu ikan.
Selain mengisi es, kapal yang akan melaut juga mengisi BBM dari SPBN yang ada di dermaga muat. Penyaluran BBM di tangani oleh KUD Mino Saroyo dengan harga sesuai yang berlaku di spbu sebesar Rp. 5500/ liter untuk jenis solar. Volume penyaluran BBM solar untuk tahun 2007 sebesar 4.285,43 KL menurun 13,7 % apabila dibanding periode yang sama tahun 2006. Penurunan ini disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah menaikan harga BBM sehingga mendorong nelayan menggunakan BBM alternatif yaitu mengganti BBM solar dengan minyak tanah yang dicampur oli,guna menekan tingginya biaya operasional agar bisa tetap melaut
Untuk keperluan masak, minum dan mandi abk, kapal yang akan berangkat kelaut juga di isi air bersih. Sumber air bersih berasal dari PDAM dan disalurkan ke kapal oleh KUD Mino Saroyo dengan harga Rp.20000/ m³. Harga ini jauh diatas harga yang ditetapkan PDAM sebesar Rp.7500/ m³. Volume air yang disalurkan periode tahun 2007 sebesar 5.834,60 m³, terjadi peningkatan sebesar 28,88 % dibanding periode yang sama tahun 2006
Kapal-kapal yang telah siap dengan bahan perbekalan dan bahan alat tangkap,serta abk yang cukup melakukan operasi penangkapan ikan di laut. Sedangkan kapal yang ingin melakukan perbaikan atau perawatan menuju ke dock. Fasilitas docking kapal dengan kapasitas s/d 100 GT yang terdiri dari lima jalur slipway adalah milik PPSC tetapi operasionalnya bekerja sama dengan PT.Tegal Shipyard Utama dengan sistem sewa.
Dock yang dimiliki mampu melayani 5 kapal sekaligus dengan gross tonage sampai 100 GT/kapal. Jumlah kapal yang memanfaatkan fasilitas ini tercatat 231 kapal selama periode tahun 2007 atau naik 32 % dibanding periode yang sama tahun 2006 sebanyak 175 kapal.Untuk mengantisipasi peningkatan gross tone yang terus meningkat, pihak PPSC telah melaksanakan penurunan elevasi slipway dari 15° menjadi ± 7° pada tahun 2007, namun belum selesai 100 % sehingga pada tahun 2009 direncanakan akan dilanjutkan pelaksanaannya. Dengan penurunan elevasi ini di harapkan dapat meningkatkan kapasitas dari 100 GT menjadi 130 GT.
PPSC disamping memberikan pelayanan teknis kapal perikanan sesuai dengan tugas dan fungsinya juga memfasilitasi kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Untuk mendorong tumbuhnya unit bisnis perikanan terpadu, PPSC dengan dukungan lintas sektoral seperti pemda, PDAM, PLN, TELKOM, dan instansi lainnya telah menyiapkan lahan kavling industri seluas 12,73 ha. Sampai dengan tahun 2007 tingkat pemanfaatannya telah mencapai 38,23% atau ± 4,867 ha oleh 34 industri perikanan pengusaha besar dan 52 pengusaha kecil dengan total investasi mencapai ± Rp. 60.204 milyar. Dengan demikian masih terbuka peluang bagi calon investor baru untuk memanfaatkan sisa lahan yang ada seluas ± 4,9hα.
Pihak investor yang berminat untuk memanfaatkan kavling industri dalam kawasan PPSC dikenakan biaya pengembangan dan pemeliharaan sebesar Rp.2000 /m² /tahun dengan jangka waktu 2 s/d 20 tahun.
Dari 34 industri perikanan yang ada, 52 diantaranya industri pengolahan berbagai produk hasil perikanan sedangkan lainnya bergerak dalam bidang pergudangan dan perbengkelan untuk menunjang kegiatan industri penangkapan. Berbagai produk olahan yang dihasilkan seperti tuna dalam kaleng, udang beku dll.
TUGAS DAN FUNGSI
Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang prasarana pelabuhan perikanan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap mempunyai tugas melaksanakan fasilitasi produksi, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan tangkap di wilayahnya dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya penangkapan untuk pelestariannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.06/ MEN/ 2007 tanggal 25 Januari 2007, tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan.
Pelabuhan Perikanan mempunyai tugas “Melakukan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil perikanan tangkap di wilayahnya dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya penangkapan untuk pelestariannya”. Dimana dalam pelaksanaan tugasnya Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap menyelenggarakan fungsi :
a. Perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, pengawasan dan pengendalian serta pendayagunaan sarana dan prasarana pelabuhan perikanan;
b. Pelayanan teknis kapal perikanan, dan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan.
c. Pelayanan jasa dan fasilitasi usaha perikanan;
d. Pengembangan dan fasilitasi penyuluhan serta pemberdayaan masyarakat perikanan.
e. Pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi di wilayahnya untuk peningkatan produksi, distribusi, dan pemasaran hasil perikanan.
f. Pelaksanaan fasilitasi publikasi hasil riset, produksi, dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya;
g. Pelaksanaan pengawasan penangkapan sumber daya ikan, dan penanganan, pengolahan, pemasaran serta pengendalian mutu hasil perikanan;
h. Pelaksanaan pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data perikanan, serta pengelolaan sistem informasi;
i. Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi hasil riset, produksi, dan pemasaran hasil perikanan tangkap di wilayahnya.
j. pelaksanaan urusan keamanan, ketertiban dan pelaksanaan kebersihan kawasan pelabuhan perikanan;
k. Pemantauan wilayah pesisir dan fasilitasi wisata bahari.
l. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
STRUKTUR ORGANISASI
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pelabuhan perikanan maka Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan Susunan Organisasi Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap yang terdiri atas :
a. Kepala Pelabuhan.
b. Kepala Bagian Tata Usaha
b.1. Kasubag Umum.
b.2. Kasubag Keuangan.
c. Kepala Bidang Tata Operasional.
c.1. Kasi Kesyahbandaran Perikanan.
c.2. Kasi Pemasaran dan Informasi.
d. Kepala Bidang Pengembangan.
d.1. Kasi Sarana.
d.2. Kasi Pelayanan dan Pengembangan Usaha.
e. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional yang telah operasional di PPS Cilacap meliputi Jabatan fungsional Pengawas Sumberdaya Perikanan sejumlah 8 (delapan) orang, dan Pranata Humas sejumlah 2 (dua) orang.
LANDASAN HUKUM OPERASIONAL
Dalam rangka mendorong kinerja operasional PPS Cilacap maka dilaksanakan koordinasi dengan mengacu pada ketentuan peraturan perundangan sebagai berikut :
1. Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
2. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1985, Tentang Pembinaan Kepelabuhanan.
3. Peraturan Pemerintah No. 62 Tahun 2002, Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Departemen Kelautan dan Perikanan.
4. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2006, tentang Perubahan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Departemen Kelautan dan Perikanan.
5. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.03/ MEN-KP/ KP.430/ 2004 tentang Mutasi Jabatan Struktural Esselon II;
6. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.KEP.13/SJ-DKP/KP.430/2004 tanggal 12 Agustus 2004 tentang Mutasi Jabatan Struktural Esselon III
7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.06/ MEN/ 2007 tanggal 25 Januari 2007, tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan.
8. Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI No. Km-35/ AL.106/ Phb-85, tanggal 5 Februari, tentang Pelabuhan Perikanan.
9. Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian No. 492/ Kpts/ IK.120/ 7/ 96 dan Menteri Perhubungan SK.1/AL.003/ Phb-96
10. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1082/ Kpts/ OT.210/ 10/99, tentang Koordinasi Antar Instansi Terkait.
JUMLAH DAN KOMPOSISI PEGAWAI
Sampai dengan akhir Desember 2007 jumlah pegawai dan tenaga honorer PPS Cilacap sebanyak 71 orang.
dengan rincian : 3 (tiga) orang (4%) dengan tingkat pendidikan strata 2 Teknis Perikanan, 1 (satu) orang jurusan Agribisnis dan 2 (dua) orang jurusan Manajemen Sumberdaya Perikanan. 7 (tujuh) orang (9,8%) dengan tingkat pendidikan Strata 2 Non Teknis Perikanan dengan latar belakang pendidikan magister manajemen, dari 7 (tujuh) orang tersebut yang memiliki latar belakang teknis perikanan sejumlah 6 (enam) orang. 11 (sebelas) orang (15,4 %) pendidikan teknis perikanan (S1, DIII, SUPM), 2 (dua) orang (2,8 %) pendidikan teknik sipil dan mesin, 48 (empat puluh delapan) orang (67,6 %) pendidikan non teknis perikanan.
Ditinjau dari jumlah pegawai dapat dikatakan memadai, namun dari segi komposisi pendidikan dan kualitas SDM (profesionalisme) perlu ditingkatkan dan dikembangkan, termasuk penguasaan bahasa asing. Selain daripada itu PPS Cilacap masih mempekerjakan 20 orang tenaga kontrak untuk menangani keamanan dan kebersihan kawasan, khusus tenaga kebersihan dengan jumlah 13 orang dirasakan masih belum mencukupi untuk menangani kawasan pelabuhan yang mencapai 30 ha.
PENGEMBANGAN PEGAWAI
Pembinaan terhadap pegawai Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan pegawai melalui berbagai pelatihan/kursus dan apresiasi dengan maksud :
1. Menambah pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas serta menumbuhkan motivasi bagi pegawai.
2. Memberikan pemahaman kepada para staf akan pentingnya disiplin, loyalitas dan tanggung jawab.
3. Memberikan kesempatan kepada pegawai dalam meningkatkan karier.
Pendidikan dan pelatihan, kursus dan apresiasi yang telah diikuti oleh pegawai PPS Cilacap yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, disajikan sebagaimana pada lampiran 2.
Dalam rangka meningkatkan motivasi kerja pegawai maka rewards and punishment system ditetapkan berdasarkan beberapa kriteria. Pegawai yang berprestasi diberikan penghargaan berupa sertifikat dan kesempatan studi banding. Pegawai berprestasi akan diberikan kesempatan untuk study banding ke Pelabuhan Perikanan di luar Pulau Jawa.
Dalam tahun 2007 terdapat 11 pegawai yang telah berhasil memperoleh kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dari sebelumnya serta 40 pegawai memperoleh kenaikan gaji berkala. Penghargaan terhadap pegawai yang telah melampaui pengabdian selama 10 (sepuluh), (dua puluh) dan (tiga puluh) tahun telah diterimakan kepada 6 pegawai PPS Cilacap bertepatan dengan upacara bendera pada tanggal 17 Agustus 2007 berupa Piagam Satya Lencana Karya Satya . Kenaikan pangkat dan kenaikan gaji berkala serta Piagam penghargaan diberikan bagi pegawai yang telah memenuhi syarat dan ketentuan sebagai wujud penghargaan atas pengabdian pegawai.
Selain pembinaan yang diarahkan untuk meningkatkan karier dan kemampuan pegawai, maka dalam rangka untuk meningkatkan disiplin kerja pegawai PPS Cilacap maka setiap hari senin dilakukan apel pagi serta setiap tanggal 17 dilaksanakan apel bendera yang wajib diikuti oleh seluruh pegawai PPS Cilacap. Kepala Pelabuhan selaku pembina upacara memberikan pengarahan kepada seluruh pegawai. Secara periodik utamanya pada hari Senin dilakukan rapat mingguan pejabat structural plus (Eselon III dan IV) maupun secara keseluruhan. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan semangat kerja dan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan minggu sebelumnya dan sekaligus merumuskan upaya pemecahan terhadap masalah yang dihadapi. Rapat Paripurna dengan melibatkan seluruh pegawai dilaksanakan setiap triwulan untuk memberikan arahan dan sekaligus sharing dari pegawai dan bersifat dialog sebagai wujud demokrasi.
Salah satu upaya untuk menjaga kebugaran dan keseimbangan kondisi fisik pegawai sehubungan dengan tugasnya yang banyak memerlukan energi, maka setiap hari Jum’at dilaksanakan kegiatan olah raga senam kesegaran jasmani. Bagi pegawai yang berminat diberikan kesempatan sepakbola, volley ball, tenis lapangan, tenis meja dan badminton setelah SKJ.
Acara halal bihalal dan serangkaian kegiatan keagamaan seperti nuzulul qur’an dan buka puasa bersama telah dapat dilaksanakan pada bulan suci ramadhan. Disamping itu untuk meningkatkan keakraban antar karyawan dan juga antar keluarga telah dilaksanakan kegiatan family gathering yang pada tahun 2008 dilaksanakan di Bumi Perkemahan Baturaden Purwokerto, acara yang dipandu oleh event organizer ini dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2008 dengan diikuti oleh sebagian besar karyawan dan keluarganya. Kegiatan ini diharapkan memberikan pengalaman berharga bagi peserta untuk saling mengetahui dan memahami karakter masing-masing serta untuk saling membantu dan menanggung beban sesama. Kegiatan-kegiatan serupa direncanakan akan terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.
KESEJAHTERAAN PEGAWAI
Kesejahteraan pegawai ditempuh melalui berbagai upaya antara lain:
1. Pembinaan dan pengembangan koperasi pegawai. Usaha koperasi pegawai meliputi simpan pinjam, penyaluran BBM, pengelolaan kantin, dan aneka usaha lainnya.
2. Mendorong pegawai menjadi peserta asuransi kesehatan (PT. Askes Indonesia).
3. Menyediakan minuman untuk semua pegawai pada jam kerja.
4. Menyediakan seragam olah raga, sepatu olah raga, dan topi.
5. Memberikan tali kasih (kado) dan ucapan selamat bagi pegawai yang berulang tahun.
6. Merenovasi semua rumah dinas ( mess operator) pegawai.
PENGABDIAN MASYARAKAT
Dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya guna memberikan fasilitasi kepada segenap pengguna jasa di Pelabuhan Perikanan Samudaera Cilacap sudah barang tentu tidak terlepas daripada interaksi dengan seluruh komponen masyarakat dan aparatur Pemerintahan Daerah setempat. Keberadaan PPS Cilacap di Kabupaten Cilacap sudah merupakan satu kesatuan yang dianggap mempunyai konstribusi positip guna meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Meningkatnya fungsi PPS Cilacap sebagai tempat pengambilan data dan penelitian ditunjukan dengan semakin banyaknya Sekolah dan perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah, DKI, DIY dan Jawa Barat yang menjadikan PPSC sebagai tempat kajian dan penelitian diantaranya; Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Institut Pertanian Bogor, SUPM Negeri Tegal dll, demikian pula peran serta dalam hal memberikan kesempatan terhadap siswa-siswi untuk kegiatan magang, hal demikian akan terus menerus diupayakan dan ditingkatkan sehingga peran dan keberadaan PPS Cilacap bermanfaat dan berkonstribusi positif bagi masyarakat luas. Demikian pula dalam memberikan layanan informasi terhadap LSM dan wartawan, saat ini telah tersedia unit layanan informasi/ publikasi yang ditangani oleh SDM fungsional pranata humas, sehingga segala yang berkaitan tentang kinerja PPS Cilacap dapat diketahui oleh pengguna pelabuhan.
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 19.23 0 komentar
Jumat, 17 April 2009
Istana Cipanas Dulu Vila Milik Baron van Imhoff

Foto: Istana Cipanas, dulu merupakan rumah peristirahatan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, dibangun tahun 1942-1945. (foto: istimewa)
Kata Cipanas berasal dari bahasa Sunda, "ci" atau "cai" yang berarti air dan panas yang berarti panas juga dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut menjadi nama sebuah desa, yaitu desa Cipanas. Di tempat itu terdapat sumber air panas yang mengandung belerang. Desa itu berada dalam wilayah kompleks Istana Kepresidenan Cipanas. Terletak di kaki Gunung Gede, bangunan yang kini menjadi Istana Cipanas sejak awal memang digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi para Gubernur Jenderal, bukan gedung pemerintahan atau rumah dinas seperti Istana Bogor atau Istana Merdeka.
Penciptanya adalah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff ketika sedang melakukan ekspedisi bersama timnya ke kawasan Batavia, Cisarua, dan Cipanas. Pada suatu sore rombongan Van Imhoff tiba di sebuah sumber air panas yang menyembur di bawah sebatang pohon karet munding. Ia segera berhasrat membangun sebuah rumah peristirahatan di tempat itu. Bahkan ia langsung mengutus juru ukur untuk membuat peta dan mematok kapling untuk bangunan yang dicita-citakannya.
Pada tahun 1942, rumah peristirahatan di Cipanas tersebut mulai dibangun. Tukang-tukang kayu didatangkan khusus dari Tegal dan Banyumas, Jawa Tengah, tempat para perajin yang dikenal piawai dan rapi buatannya. Sketsa dasar bangunannya dibuat Van Imhoff sendiri. Vila itu selesai empat tahun kemudian. Selama masa pembangunan itu, Van Imhoff sering datang menengok sekaligus untuk berendam air panas. Dokter pribadinya bahkan menyarankan untuk minum air dari sumber itu yang diketahui mengandung belerang dan zat besi, dicampur susu karena mempunyai khasiat pertumbuhan.
Di Vila Cipanas itu pulalah Van Imhoff meninggal pada tahun 1750, setelah sakit selama dua bulan. Jenazahnya dimakamkan di Tanahabang, Jakarta, dengan upacara kebesaran militer. Ketika rumah peristirahatan itu dibangun, Van Imhoff tidak membayangkan bahwa 2,5 abad kemudian jalan di depan puri itu akan ramai. Menurut catatan lama, bangunan itu bahkan tidak tampak dari jalan. Terlindung di balik pepohonan tinggi ketika pertama kali dibangun dulu. Sumber air panasnya sendiri yang menjadi alasan utama pendirian rumah peristirahatan itu berada lebih dari seratus meter di belakang bangunan induk.
Istana Cipanas ini tidak pernah dianggap sebagai puri resmi. Tidak semua Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah menggunakan istana ini untuk peristirahatan, khususnya pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19. Di masa pendudukan Jepang, para pemimpin tentara dan pembesar Jepang yang memang senang berendam air panas selalu singgah di Cipanas dalam perjalanan antara Jakarta dan Bandung.
Sebagai tempat peristirahatan, Istana Cipanas memang tidak banyak berperan sebagai tempat kejadian-kejadian bersejarah. Namun di sinilah Presiden Soekarno pada 13 Desember 1965 mengadakan sidang kabinet untuk memutuskan perubahan nilai uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Kebijakan ini pada waktu itu populer dengan sebutan “sanering”. Dan meskipun Istana Cipanas tidak dirancang untuk menerima tamu negara, Ratu Juliana dari Belanda pernah singgah di sini pada 1971.
Bulan Febuari 2008 lalu, Ibu Ani Bambang Yudhoyono memperkenalkan Istana Kepresidenan Cipanas kepada para Duta Besar Wanita dan para istri Duta Besar negara-negara sahabat yang sedang bertugas di Indonesia dalam acara Friendship Gathering. Kepada lebih kurang 400 undangan Ibu Ani menjelaskan tentang sejarah Istana Cipanas. "Istana Cipanas adalah satu dari enam Istana Kepresidenan di Indonesia. Terletak antara Jakarta dan Bandung dan diapit oleh Gunung Gede dan Gunung Pangrango, membuat udara di Istana ini sangat sejuk. Semoga anda semua bisa menikmati keindahan Istana Cipanas dan keragaman budaya Indonesia," kata Ibu Ani. (osa)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/pernak-pernik/2008/04/07/118.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.47 0 komentar
Sudut Istana Cipanas

Gedung Induk dan Paviliun Istana Cipanas
Berbeda dengan keempat Istana Kepresidenan yang lain, gaya arsitektur Istana Kepresidenan Cipanas tidak terkesan megah namun anggun karena bangunannya bercirikan khas gaya tradisional. Sebagian besar bangunannya terbuat dari papan dan kayu. Terlihat sekali usaha untuk menjaga kelestarian dan kekhasan bangunan itu, karena sampai saat ini pemugaran atau renovasi tidak pernah mengganggu gaya arsitektur istana tersebut.
Istana Kepresidenan Cipanas terdiri dari sebuah bangunan induk, enam unit paviliun, satu unit gedung khusus, dan dua unit bangunan lain yaitu bangunan untuk penampungan sumber air panas dan sebuah masjid. Bangunan induk yang secara resmi disebut Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas berdiri di atas areal seluas 982 meter persegi. Sesuai dengan namanya, gedung ini merupakan gedung yang paling besar jika dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya yang ada di kompleks istana ini.
Gedung Induk merupakan gedung peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani juga sudah beberapa kali menggunakan Istana Cipanas untuk beristirahat atau melaksanakan suatu acara di tempat ini. Arsitektur gedung ini sangat cantik. Serambi gedung ini dibuat tinggi, untuk mencapainya harus melewati sebelas anak tangga.
Sesuai dengan fungsinya, Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, dan serambi belakang. Secara khusus, ruang tamunya berupa bangunan panggung yang berlantaikan kayu. Seluruh ruang dalam Gedung Induk ditutupi permadani yang menghampar.
Sementara itu, di sekitar halaman belakang Gedung Induk berdiri enam buah paviliun istana yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. Keenam buah paviliun tersebut diberi nama sesuai dengan nama tokoh pewayangan yaitu, Paviliun Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Abimanyu. Terletak agak terpisah dari sekitar Gedung Induk dan keenam paviliun itu terdapat dua bangunan lainnya yang diberi nama Paviliun Tumaritis I dan Tumaritis II.
Dalam setiap paviliun terdapat ruang tamu, ruang tidur, ruang rias, dan ruang makan. Aneka lukisan yang indah karya pelukis dalam dan luar negeri menghiasi sebagian besar dinding-dinding paviliun. Sesuai dengan lingkungan alamnya, lukisan keenam paviliun ini cenderung bertemakan pemandangan alam, pegunungan, dan pepohonan. (osa)
http://www.presidenri.go.id/index.php/sudutistana/2009/03/16/88.htm
Back To : chulay_212
Diposting oleh Unknown di 18.44 0 komentar
SEJARAH ISTANA NEGARA

Istana Negara dibangun tahun 1796 untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam. Pada tahun 1816 bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral.
Pada mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.
Sesuai dengan fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis - pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah.
Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ialah ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.
Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara - acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat - pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.
Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.
(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/negara.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.39 0 komentar
SEJARAH ISTANA MERDEKA

Istana Merdeka mulai dibangun pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, oleh arsitek Drossares. Istana Negara juga dikenal dengan nama Istana Gambir.
Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, istana ini menjadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.
Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.
(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/merdeka.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.37 0 komentar
SEJARAH ISTANA BOGOR

Berawal dari keinginan orang - orang Belanda yang bekerja di Batavia ( kini Jakarta ) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat - tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.
Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.
Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff ( 1745 - 1750 ) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, ( artinya bebas masalah / kesulitan ). Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 - 1761
Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 - 1754.
Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels ( 1808 - 1811 ), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.
Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen ( 1817 - 1826 ), dilakukan perubahan besar - besaran. Sebuah menara di tengah - tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.
Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang pada tanggal 10 oktober 1834.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist ( 1851 - 1856 ), bangunan lama sisa gempa dirubuhkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur eropa Abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan. Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager ( 1856 - 1861 ). Dan pada pemerintahan, selanjutnya tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Belanda.
Akhir perang dunia II, Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Barisan Keamanan Rakyat ( BKR ) sempat menduduki Istana Buitenzorg untuk mengibarkan bendera merah putih. Istana Buitenzourg yang namanya kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor diserahkan kembali kepada pemerintah republik ini pada akhir tahun 1949. Setelah masa kemerdekaan , Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada bulan Januari 1950.
Kepustakaan dan Benda Seni
Istana Kepresidenan Bogor mempunyai koleksi buku sebanyak 3.205 buah yang daftarnya tersedia di kepustakaan istana. Istana ini menyimpan banyak benda seni, baik yang berupa lukisan, patung, serta keramik dan benda seni lainnya. Hingga kini lukisan yang terdapat di istana ini adalah 448 buah, dimana judul/nama lukisan itu, pelukisnya, tahun dilukisnya, tersedia dalam bentuk daftar sehingga memudahkan siapa saja yang ingin memperoleh informasi tentang lukisan tersebut. Begitu pula halnya dengan patung dengan aneka bahan bakunya. Di istana ini terdapat patung sebanyak 216 buah.
Di samping lukisan dan patung, Istana Bogor juga mengoleksi keramik sebanyak 196 buah. Semua itu tersimpan di museum istana, di samping yang dipakai sebagai pemajang di setiap ruang/bangunan istana.
(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/bogor.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.34 0 komentar
SEJARAH ISTANA CIPANAS

Kata cipanas berasal dari bahasa Sunda; ci atau cai artinya air, dan panas yaitu panas dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut menjadi nama sebuah desa, yakni Desa Cipanas karena di tempat ini terdapat sumber air panas yang mengandung belerang.
Istana Kepresidenan Cipanas bermula dari sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh pemiliknya pribadi, seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots. Namun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tepatnya mulai pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1743), karena daya tarik sumber air panasnya, dibangun sebuah gedung kesehatan di sekitar sumber air panas tersebut. Kemudian, karena kharisma udara pegunungan yang sejuk serta alamnya yang bersih dan segar, bangunan itu sempat dijadikan tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda.
Sejak didirikannya pada masa pemerintahan Belanda, Istana Kepresidenan Cipanas difungsikan sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan. Akan tetapi sekeliling alamnya yang amat indah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya, sehingga pada masa pemerintahan van Imhoff itu, tempat persinggahan/peristirahatan sempat beralih fungsi. Karena kekuatan sumber air panas yang mengandung belerang itu dan karena udara pegunungan yang sejuk dan bersih, tempat ini pernah dijadikan gedung pengobatan bagi anggota militer Kompeni yang perlu mendapat perawatan.
Komisaris Jenderal Leonard Pietr Josef du Bus de Gisignies, misalnya, tercatat yang paling senang mandi air belerang itu. Demikian pula halnya dengan Carel Sirardus Willem Graaf van Hogendorp, sekretarisnya (1820-1841). Selain itu Herman Willem Daendeles (1808-1811) dan Thomas Stanford Raffles (1811-1816) pada masa dinasnya menempatkan beberapa ratus orang di tempat tersebut; sebagian basar dari mereka bekerja di kebun apel dan kebun bunga serta di penggilingan padi, di samping yang mengurus sapi, biri - biri, dan kuda.
Secara fisik, sejak berdirinya hingga kini, perjalanan riwayat Istana Cipanas banyak berubah. Secara bertahap, dari tahun ke tahun, istana ini bertambah dan bertambah. Mulai dari tahun 1916, masih pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tiga buah bangunan berdiri di dalam kompleks istana ini. Kini ketiganya dikenal dengan nama Paviliun Yudhistira, Paviliun Bima, dan Paviliun Arjuna.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1954 di masa dinas Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, didirikan sebuah bangunan mungil, terletak di sebelah belakang Gedung Induk. Berbeda dari gedung-gedung lainnya, sekeliling dinding tembok luar serta pelataran depan dan samping bangunan ini berhiaskan batu berbentuk bentol. Dengan mengambil bentuk hiasan tembok serta pelatarannya itulah, nama gedung ini terdengar unik, yaitu Gedung Bentol. (Bentol dari bahasa sunda; padanannya dalam bahasa Indonesia bentol juga, seperti bekas gigitan nyamuk).
Dua puluh sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1983, semasa Presiden II Republik Indonesia, Soeharto, dua buah paviliun lainnya menyusul berdiri, yaitu Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.
Istana Kepresidenan Cipans juga pernah difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga oleh beberapa keluarga Gubernur Jenderal Belanda. Yang pernah menghuni bangunan itu adalah keluarga Andrias Cornelis de Graaf (yang masa pemerintahannya 1926 -1931), Bonifacius Cornelius de Jonge (1931), dan yang terakhir, yang bersamaan dengan datangnya masa pendudukan Jepang (1942), adalah Tjarda van Starkenborg Stachourwer.
Setelah kemerdekaan Indonesia, secara resmi gedung tersebut ditetapkan sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan fungsinya tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya.
Istana Kepresidenan Cipanas ini juga mencatat peristiwa penting dalam sejarah garis haluan perekonomian Indonesia, yaitu bahwa pada tanggal 13 Desember 1965, Ruang Makan Gedung Induk, pernah difungsikan sebagai tempat kabinet bersidang dalam rangka penetapan perubahan nilai uang dari Rp1.000,00 menjadi Rp1,00, tepatnya pada masa Presiden Republik Indonesia Soekarno dan pada waktu Menteri Keuangan dijabat oleh Frans Seda.
Sesuai dengan fungsi Istana Kepresidenan Cipanas, tidak digunakan untuk menerima tamu negara. Namun, pada tahun 1971, Ratu Yuliana pun meluangkan waktunya untuk singgah di istana ini ketika berkunjung ke Indonesia.
(Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI, 2004)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/cipanas.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.31 0 komentar
SEJARAH ISTANA TAMPAK SIRING

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu tampak (yang bermakna 'telapak ') dan siring (yang bermakna 'miring'). Menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas telapak kaki seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, tetapi bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Sebagai akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan balatentaranya untuk menghacurkannya. Namun, Mayadenawa berlari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap agar para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu adalah jejak manusia, yaitu jejak Mayadenawa.
Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna 'airsuci'). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa denagn berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.
Menurut riwayatnya, disalah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itulah sekarang berdiri Wisma Merdeka , yaitu bagian dari Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.
Istana Kepresidenan Tampaksiring berdiri atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Soekarno, sehingga dapat dikatakan Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya istana yang dibangun pada masa pemerintahan Indonesia.
Pembangunan istana dimulai taun 1957 hingga tahun 1960. Namun, dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambahkan bangunan baru berikut fasilitas - fasilitasnya, yaitu gedung untuk Konferensi dan untuk resepsi. Selain itu, istana juga merenovasi Balai Wantilan sebagai gedung pagelaran kesenian.
Istana Kepresidenan Tampaksiring dibangun secara bertahap. Arsiteknya ialah R.M Soedarsono. Yang pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira, yakni pada tahun 1957. Pembangunan berikutnya dilaksanakan tahun 1958, dan semua bangunan selesai pada tahun 1963. Selanjutnya, untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Oktober 2003, Istana dibangun gedung baru untuk Konferensi beserta fasilitas-fasilitasnya dan merenovasi Balai Wantilan. Kini Tampaksiring juga memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya (dalam rangka kepariwisataan) dengan membangun pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Koro Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.
Sejak dirancangnya / direncanakan, pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring difungsikan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara. Usai pembangunan istana ini, yang pertama berkunjung dan bermalam di istana adalah pemrakarsanya, yaitu Presiden Soekarno. Tamu Negara yang bertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang berkunjung ke Indonesia bersama permaisurinya, Ratu Sirikit (pada tahun 1957).
Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain adalah Presiden Ne Win dari Birma ( sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang.
(Istana Kepresidenan RI , 2004, Sekretariat Presiden RI)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/tampak.html
Back To : chulay212
Diposting oleh Unknown di 18.29 0 komentar